Akademiaagarut.com – Nama Uus Susansyah bukan sosok asing di dunia bola voli Indonesia. Pria kelahiran Garut yang kini berusia 43 tahun ini dikenal sebagai salah satu legenda hidup olahraga voli nasional, dengan jejak prestasi yang menginspirasi sekaligus membanggakan daerah asalnya, Kabupaten Garut.

Kini, setelah resmi dilantik sebagai Ketua II PBVSI Kabupaten Garut bidang Pembinaan Prestasi pada Jumat, 24 Oktober 2025, Uus kembali mengabdikan diri bagi tanah kelahirannya dengan tekad melahirkan talenta-talenta emas baru di dunia bola voli.

Dari Garut ke Pentas Asia

Uus memulai kiprahnya dari lapangan-lapangan sederhana di Garut, daerah yang dikenal sebagai lumbung atlet voli Jawa Barat. Ketekunan dan semangat juangnya membawanya hingga ke level tertinggi: mengenakan seragam Merah Putih sebagai anggota Timnas Bola Voli Indonesia di Asian Games 1998, di mana Indonesia menempati peringkat enam Asia.

Prestasi gemilang berlanjut. Uus memperkuat tim nasional di SEA Games 2001 dan berhasil mempersembahkan medali perunggu, lalu di SEA Games 2003 ia kembali naik podium dengan medali emas — capaian tertinggi bagi tim voli Indonesia kala itu.
Sayangnya, cedera menghalangi langkahnya pada SEA Games 2005 di Filipina, saat ia harus absen bersama rekan setimnya seperti Loudry Maspaitella.

“Waktu itu saya sudah di Filipina, tapi cedera. Jadi tidak bisa ikut tampil,” kenangnya dalam satu kesempatan.

Karier Panjang dan Dedikasi Tak Putus

Di level profesional, Uus adalah salah satu pemain paling konsisten di Proliga, kompetisi voli tertinggi Indonesia, sejak 2002 hingga 2009. Puncak kariernya terjadi pada Proliga 2002, saat ia dinobatkan sebagai pemain terbaik sekaligus membawa klubnya meraih gelar juara nasional.

Uus juga menjadi bagian tim nasional di ajang Kualifikasi Kejuaraan Dunia tahun 2001, 2003, dan 2005 — sesuatu yang hanya segelintir pemain Indonesia mampu capai.

Atas dedikasi dan prestasinya, pemerintah Indonesia mengangkatnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) jalur prestasi di Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi Jawa Barat pada tahun 2010. Tak berhenti di situ, ia kemudian mendirikan PBV Bina Cijawura (BC) di Bandung yang sukses menembus 8 Besar Livoli Divisi Utama Nasional setelah menjuarai Kejurnas Divisi 1.

Kembali ke Garut: Membangun dari Akar

Tahun 2020 menjadi titik balik penting. Setelah dipindahtugaskan ke SAMSAT Garut, Uus memutuskan untuk kembali membangun dari akar. Ia mendirikan Diklat Voli Bina Taruna Garut, sebuah wadah pembinaan usia dini yang menampung puluhan atlet muda tingkat SD, SMP, dan SMA.

Bersama tim pelatih — Ibnu, Dea, dan Dies — ia membentuk sistem pelatihan yang tidak hanya menekankan teknik dasar, tetapi juga pembentukan karakter, mental, dan attitude sebagai fondasi utama seorang atlet sejati.


“Tujuan awalnya bukan sekadar melatih voli, tapi membentuk anak-anak yang punya mental juang dan kepribadian yang kuat,” ujarnya saat itu.

Kini, sebagian dari atlet binaannya telah mulai menembus ajang-ajang resmi di bawah naungan PBVSI Garut dan Jawa Barat.

Semangat Baru untuk Garut

Sebagai Ketua II PBVSI Garut yang membidangi Pembinaan Prestasi, Uus membawa visi besar untuk membangun sistem pembinaan berjenjang dan profesional. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pelatih, klub, sekolah, dan masyarakat agar regenerasi atlet di Garut tidak terputus.

“Garut punya potensi luar biasa. Lapangan voli ada di setiap RW, semangat masyarakatnya tinggi. Tugas kita adalah mengarahkan potensi itu menjadi prestasi nyata,” tegasnya dalam sambutan pelantikannya.

Ke depan, Uus menargetkan lahirnya generasi emas voli Garut yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Ia ingin memastikan bahwa pengalaman panjangnya — dari pemain, pelatih, hingga pembina — bisa menjadi warisan bagi generasi penerus.

“Kalau dulu saya diberi kesempatan membela Merah Putih, sekarang saatnya saya membina anak-anak Garut agar bisa melanjutkan perjuangan itu. Ini bentuk rasa terima kasih saya kepada Garut dan Indonesia,” ungkapnya dengan nada penuh patriotisme.

Dengan semangatnya yang tak pernah padam, Uus Susansyah kini bukan hanya legenda masa lalu, tapi motor penggerak masa depan bola voli Garut. Dari tangannya, diharapkan lahir atlet-atlet muda berjiwa juang, berkarakter, dan siap mengharumkan nama Swiss Van Java di kancah nasional maupun dunia. (*)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Search

About

Lorem Ipsum has been the industrys standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown prmontserrat took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book.

Lorem Ipsum has been the industrys standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown prmontserrat took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged.

Gallery